Sebanyak 36 Mahasiswa dan 2 Dosen KPI STAI DT menggelar Observasi Mata Kuliah Dakwah Antar Budaya, yang berlokasi di Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, pada hari Ahad 19 Juli 2026. Beberapa agenda yang diselenggarakan diantaranya adalah Talkshow bertema Islam Rahmatan lil ‘Alamin langsung dengan narasumber dari Islamic Center Ciranjang (ICC) dan Dewan Dakwah Indonesia (DDI), ditutup dengan penyaluran donasi kepada masyarakat dan para mualaf. Tidak hanya itu, delegasi STAI DT sekaligus lakukan Observasi lapangan di Pondok Pesantren Nurul Hidayah terkait perkembangan dakwah Islam, pembinaan santri, dan pembinaan masyarakat.
Agus Mubarok, selaku Dosen Matkul Mata Kuliah Dakwah Antar Budaya yang turut membersamai, menuturkan bahwa selain agenda diatas, para Mahasiswa turut berdiskusi lintas agama di Gereja Kristen Pasundan Palalangon sebagai bentuk pembelajaran mengenai kehidupan masyarakat plural dan praktik toleransi antarumat beragama. Beliau menambahkan terkait materi yang disampaikan menekankan keberhasilan dakwah tidak hanya diukur dari bertambahnya jumlah umat Islam, tetapi juga dari keberhasilan membina akidah, memperkuat ukhuwah, serta menghadirkan nilai-nilai Islam sebagai rahmat bagi seluruh masyarakat.
Selain itu, lanjut ustadz Agus – sapaan beliau – narasumber menjelaskan bahwa pembinaan terhadap mualaf harus dilakukan secara berkelanjutan melalui pendidikan keislaman, pendampingan spiritual, serta pemberdayaan sosial-ekonomi agar mereka mampu mempertahankan keimanannya secara mandiri.
Salwa Hulwatusyifa [Mahasiswa KPI – 4] – Alhamdulillah banyak sekali ilmu yang didapat dari kegiatan kuliah lapangan di Ciranjang, Cianjur. Rasanya sangat luar biasa mendapat kesempatan untuk mengenal, bersilaturahmi, serta melihat secara nyata kehidupan Muslim mualaf di sana, apalagi kami disambut dengan sangat hangat dan baik.
Selain bersilaturahmi dengan sahabat mualaf, kami juga berkesempatan untuk belajar lebih jauh dan mengenal lebih dekat kehidupan gereja di sana. Luar biasa sekali bisa mengunjungi salah satu gereja tertua yang bahkan telah lahir sebelum Indonesia ada. Melalui kegiatan ini, kami mendapatkan banyak pelajaran berharga; mulai dari bagaimana hidup beragama di tengah perbedaan, memahami tantangan nyata dalam dakwah, hingga bagaimana menjaga kerukunan serta saling menguatkan dalam akidah tanpa berhenti berdakwah dalam kebaikan.
Hal serupa disampaikan Hasna Gaida [KPI 4] – banyak pelajaran berharga yang saya peroleh ketika mengikuti observasi di Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur bersama teman-teman sekelas. Kegiatan ini membuat saya memahami bahwa kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama benar-benar ada dan dapat dijumpai secara nyata di Indonesia. Ini merupakan pengalaman pertama bagi saya menyaksikan secara langsung bagaimana masyarakat dengan latar belakang dan keyakinan agama yang berbeda mampu hidup berdampingan secara damai.
Pengalaman tersebut memperluas sudut pandang saya mengenai makna toleransi, bahwa toleransi bukan sekadar menghargai perbedaan, melainkan juga membangun kehidupan bersama yang harmonis tanpa saling menyakiti. Selain itu, kegiatan ini menjadi inspirasi bagi saya dalam memahami bahwa seorang dai tidak hanya dituntut menyampaikan ajaran Islam, tetapi juga perlu memahami kebutuhan masyarakat dari aspek psikologis dan sosiologis. Dengan memahami kondisi tersebut, dakwah yang disampaikan akan menjadi lebih humanis, relevan, dan lebih mudah diterima oleh masyarakat.
_Caca Mansyur_

